"Permuda yang hatinya terikat dengan masjid..." juga, "Pemuda yang tumbuh berkembang dalam ketaatan kepada Allah. "
Pemuda masjid, remaja Ahli Ibadah, memang makhluk langka. Karena itu adalah usia di mana seluruh elemen dalam tubuh, seluruh unsur manusia dalam diri manusia ini, menuntut untuk diberi pengakuan, dan memaksa untuk diberi kepuasan. Segala kepentingan diri yang di masa kanak-kanak berenang-renang di alam khayal, di masa remaja dituntut menjadi nyata.
Sungguh sulit, menjadi orang shalih, di tengah lingkungan serba mengajak bermaksiat. Lebih sulit lagi menjadi remaja shalih, karena keremajaan selalu diidentikkan dengan puncak ketidakstabilan. Saat insting kenakalan sedang liar-liarnya. Menjadi remaja shalih berarti mengekang kuda liar agar menjinak, dan ditunggangi dengan nyaman. Untuk menjadi remaja yang tangguh, kamu perlu belajar menjadi joki yang baik.
Belajar Memahami Realitas
Remaja, seperti digambarkan dalam sebuah iklan rokok: memandang setiap bahaya sebagai petualangan. Dunia remaja, sering melambungkan angan-angan menembus batas realitas. Mereka ingin menjadi siapa saja, dan menjelma menjadi apa saja, sementara mereka belumlah apa-apa. Hasrat dan keinginan seringkali melampaui kapasitas diri dan kemampuan. Maka remaja adalah pribadi yang paling sering lupa daratan. Hidupnya sering di awang-awang. Lebih layak disebut pengkhayal ketimbang sekadar pemimpi kesiangan. Untuk bisa berkwalitas, seorang remaja ternyata harus memaksa diri, turun ke dunia nyata.
Contohnya, ketimbang mempelajari hal-hal yang nyata dan kongkrit: mempelajari rumus-rumus matematika agar menjadi pelajar yang cerdas, menghapal Al-Quran agar menjadi seorang hafizh, menekuni pekerjaan tertentu agar menjadi seorang pakar, kebanyakan remaja justru lebih memilih membaca komik, novel, dan buku-buku cerita seru!
Saat membaca dan tenggelam dalam buku-buku itu, mereka seolah-olah berubah menjadi tokoh yang mereka baca. Secara tiba-tiba saja mereka merasa berbakat seperti ninja dari Desa Konoha kayak dalam kisah Naruto, atau Kenshin Himura, atau menjadi calon petualang hebat seperti Old Satherhand dalam buku karya Dokter Karl May, atau menjelma tiba-tiba menjadi mirip Mahesa Jenar dalam Nogo Sostro Sabung Inten, atau malah si gila Wiro Sableng. Dunia-dunia khayal itu seolah-olah menjadi nyata, dan sepertinya mereka sedang terlibat di dalamnya. Tanpa terasa, mereka bahkan seperti memiliki kemampuan ajaib, tubuh mereka menjadi kuat, dan 'tenaga dalam' bergolak diam-diam dalam tubuh mereka. Mereka berharap akan bertemu manusia-manusia sakti seperti Hatake Kakashi, gurunya Naruto, atau Seijuro Hiko, master jurus Hiten Mitsurugi-nya Kenshin, untuk mengangkat mereka sebagai murid. Karena tulang mereka bagus, bakat mereka melangit. Komik-komik itu membuat mereka mengkhayalkan apa saja, sementara mereka adalah mereka. Saat sadar, mereka baru teringat bahwa mereka hanya remaja-remaja berbadan ceking, atau malah gembrot, yang sedang duduk di sebuah toko komik, dan membolos sekolah! Mengenaskan.
Duhai, mereka ternyata hanya remaja-remaja yang pemalas, yang hanya bisa berfantasi, dan selalu menjadi pecundang di dunia nyata:
Jadilah orang yang rajin, jangan malas. Setiap kemalasan, ujungnya pasti penyesalan..
Maka, remaja yang tangguh adalah yang bergerak di alam nyata. Yang ada di hadapan mereka, itulah yang mereka tatap dengan semangat. Mereka belajar, bekerja, beraktivitas, dan berusaha merengkuh segala yang mampu mereka rengkuh. "Mumpung masih muda, saya harus melalukan segala hal yang terbaik. Saat tubuh sudah rapuh, saya tak akan mampu melakukannya lagi." Itu tekad pemuda sejati.
Menjaga Identitas Diri
Jangan malu mengaku sebagai manusia, mengaku sebagai remaja, dan mengaku sebagai muslim. Itu sikap yang harus dimiliki setiap remaja beriman.
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (Ali Imran : 19)
Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali Imran : 85)
Jagalah identitas asli kita sebagai manusia, sebagai remaja, dan sebagai pemeluk agama Islam. Soal gaul, modis, trendi, itu hanya pelampiasan dari orang-orang yang kehilangan identitas diri. Sekolah, bukan tempat yang harus dibenci. Masjid, jangan menjadi lokasi yang paling dijauhi. Buku-buku pelajaran, kitab kumpulan hadits dan dzikir, Al-Quran sebagai Kitab Suci, harus menjadi sesuatu yang paling banyak menemani kita. Merasalah malu, bila kamu jauh dari semua itu. Saat kamu berhasil melakukan itu, semua teman dan lawan akan menghormati kamu. Siapa pun akan merasa segan kepada kamu. Tapi saat kamu larut dalam gelombang kehidupan remaja, tak ada orang yang akan menganggap kamu hebat dan punya segalanya. Menjadi populer, beken dan banyak teman pun kamu tak lantas dihormati. Bahkan akan lebih banyak yang mencibir diam-diam. "Orang beken, tapi goblok, malu-maluin!"
Manusia menjadi mulia karena sadar bahwa sebagai manusia ia hanya ciptaan, bukan pencipta. Ia hanya penyembah, bukan yang disembah. Dari kesadaran itu, kita akan tahu bahwa isi hidup kita tak mungkin lari dari tugas-tugas sebagai hamba Allah. Wah, betapa beratnya tugas kita sebagai pemuda. Saat glamour kehidupan remaja masa kini semakin menjanjikan sejuta keindahannya, kita justru berlari ke tepi sejadah, bersujud dan merunduk pasrah di hadapan Allah. Saat kebanyakan teman-teman kita sedang tertawa riang menyaksikan pentas-pentas remaja, kita justru asyik masyuk dengan dzikir dan wirid seusai shalat. Tapi yakinlah, di situlah letak kebahagiaan sejati. Lihatlah, setelah bersuka ria, mereka akan pulang dengan lunglai, seperti kehabisan darah. Saat kembali ke dunia nyata, mereka baru sadar bahwa apa yang mereka lakukan hanya kesia-siakan belaka.
Membentuk Lingkungan Sendiri
Untuk menjadi remaja yang tangguh, jangan rela dibentuk oleh lingkungan. Berusahalah untuk membuat dan menciptakan lingkungan. Sebagai remaja muslim, ubahlah label di setiap hal yang melingkari Anda menjadi islami.
Kalau engkau memperturuti (keyakinan atau amalan) kebanyakan manusia di bumi ini, pasti mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. (Al-An'aam : 116)
Kita boleh tinggal di tempat berbeda-beda, memiliki kawan dan kenalan di mana-mana, berpindah ke mana saja kita dibawa orang tua kita. Tapi setiap kita menemui sebuah lingkungan, kita harus mampu menguasainya. Jangan mudah larut oleh suasana lingkungan, tapi buatlah agar lingkungan itu terpengaruh dengan kehadiran kita. Caranya sesungguhnya mudah saja. Buat saja aktivitas, kebiasaan seperti yang sudah biasa kita lakukan. Selama itu baik dan benar, lakukan saja. Biarlah kebanyakan orang di lingkungan itu tidak terbiasa melakukannya. Lama-kelamaan, pasti akan berkerumun juga teman-teman yang menyukai kita. Bila ada masjid sepi, kita lah yang memakmurkannya. Bila di kampung itu jarang terdengar suara bacaan Al-Quran, kita lah yang melantunkannya. Sederhana saja, tapi kadang butuh mental yang kokoh. Dan ternyata, asal ada ilmu, dan kita selalu mendekatkan diri kepada Allah, mental kuat itu akan dengan sendirinya menjadi milik kita. Percaya deh.
Duhai, betapa benar ungkapan Imam Syafi'i,
Sesungguhnya pemuda sejati adalah yang berilmu dan bertakwa…
gaul. Bukan apa-apa, sebutan funky dan cool memang terdengar
akrab dalam bahasa pergaulan remaja. Seolah-olah bila remaja
nggak ngomong funky atawa cool, dijamin bisa dicap sebagai
remaja kuper bin norak. Tak heran bila kemudian banyak
teman-teman remaja buru-buru tampil funky hanya untuk disebut
gaulFunky, adalah istilah 'wajib' bagi remaja yang mengaku gila
gaul. Bukan apa-apa, sebutan funky dan cool memang terdengar
akrab dalam bahasa pergaulan remaja. Seolah-olah bila remaja
nggak ngomong funky atawa cool, dijamin bisa dicap sebagai
remaja kuper bin norak. Tak heran bila kemudian banyak
teman-teman remaja buru-buru tampil funky hanya untuk disebut
gaul.
Mulai soal dandanan sampai soal musik. Gaya rambut yang dicat
warna-warni kayak pelangi, atau dipermak mirip durian, atawa
gaya rambut yang 'disulap' seperti topi Romawi. Itu baru gaya
rambut, belum lagi pakaian. Jaket hitam yang ketat dari kulit
buaya (semoga yang pake' bukan buaya darat, heee .), celana jins
super sempit kayak penyanyi rock Kelvits yang bangga disebut
dirinya funky , atau celana cutbray yang bikin penampilan seksi
mirip Elvis kesemuanya identitas gaya gaul remaja sekarang.
Belum lagi aksesoris lainnya. Kuping ditindik, bahkan hidung,
pun ada yang nekat ditindik pula, hiasan rantai yang gede-gede
juga ikut nimbrung.
Nggak hanya itu saudara-saudara, tatto juga sering menghiasi
tubuh anak funky. Macam-macam model tattonya, dari yang 'lucu'
sampai yang 'serem'. Dari gambar pemandangan (idih, emangnya
ada?) sampai gambar tengkorak, tapi tengkorak ikan
(hi..hi..hi..). Itu sih bukan serem, tapi lucu, menggelikan
lagi. Nah, gaya remaja model begini nih, kamu bisa temui di mal
atawa tempat ngeceng yang memang dijejali remaja. Khusus di
daerah lahirnya bonek ini bisa kamu temui di daerah Basuki
Rahmat.
Di sana, berbagai gaya funky bisa kamu liat. Dari mulai yang
modis sampai yang keranjingan abis. Tapi memang bukan soal enak
dipandang atau tidak, yang jelas, gaya funky itu memang warisan
budaya Barat yang berbahaya dan rusak. Untuk itu kamu kudu tahu,
bagaimana sih sejarah lahirnya budaya funky yang sebenarnya
kontradiksi dengan Islam itu. Nah simak dech, paparan di bawah
ini.
Funky, Apaan Tuh?
Dalam dunia gaya, banyak terjadi pembalikan makna. Kata funky
arti sebenarnya adalah busuk, kemudian mengalami pergeseran
makna menjadi makna seolah "positif". Mendengar istilah fungky,
terlintas kita akan salah satu jenis irama musik. Ya, seperti
irama yang dibawakan James Brown atau kelompok Sly & The Family
Stone di tahun 1965 - 1970-an. Kamu pasti nggak terlalu kenal
ama arti satu itu?, iya soalnya mereka ada di jaman bokap and
nyokap kita lagi remaja.
Nah, menyimak sejarah dunia entartaiment, gaya busana dan musik
khususnya, memang punya kaitan erat yang saling mempengaruhi,
termasuk aspek-aspek ipoleksosbud yang melatarbelakanginya
(taela, kayak pelajaran PPKn, ya). Kita lihat misalnya
'ideologi' anarchy yang dianut salah satu aliran gaya punk yang
terkenal melalui sosok Johnny Rotten dari Sex Pistol. Atau Ente
juga bisa lihat 'ideologi' kaum gay melalui kelompok aliran gaya
busana Glam dengan irama glam rock melalui sosok David Bowie dan
Gary Gliter. Atau 'ideologi' lingkungan dan perdamaian yang
dipropagandakan kelompok Hippy melalui The Grateful Dead, CSN&Y
(Crosby, Stills, Nash, Young), Frank Zappa, dan Joan Baez dengan
irama musik psychedelic maupun Folk.
Well, itu fakta masa lalu, bagi generasi sekarang, mungkin lebih
mengenal gaya rambut dreadlock (gimbal) yang dipopulerkan aliran
gaya rastafarian melalui tokoh Bob Marley dengan irama reggae.
Atau gaya B-boy dan Flygirls serta Gangsta melalui irama musik
Rap, kalau di Indonesia kamu bisa dapetin di kelompoknya HJ
(harapan jaya)
Achmad Haldani D, staf pengajar Program Studi Kria Tekstil
Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung
terhadap kasus tersebut, menyebutnya sebagai suatu kenyataan
sejarah, gaya-gaya busana yang muncul di Barat amat kental
dengan sisi perjuangan subkultur anak muda terhadap berbagai
masalah yang penuh gejolak. Free sex, drugs, eS-eS (bukan eS
krim, lho), rasisme, hujatan terhadap orangtua, memuja setan,
tripping dan lain-lain, adalah sebagai bukti empirik ekspresi
'ideologi' yang terkadang bagi sekelompok orang sulit diterima
akal sehat, sehingga banyak di antaranya dikritik, disisihkan,
atau bahkan dikucilkan masyarakat.
'Ideologi' yang mereka anut pun amat beragam, dan sarat dengan
cara pandang mereka terhadap suatu nilai dan harapan. Harapan
dengan tidak meninggalkan ide masa lalu, masa kini, maupun masa
mendatang. Untuk mengkomunikasikan sekaligus mengangkat
eksistensi dan prestis, setiap gerakan butuh akan representasi,
simbol, atau media visualisasi lain yang otentik dan khas,
bahkan jika perlu ekstrim dan radikal (wah-wah-wah.. serem juga
nich). Karena itu, nggak salah bila kita amat mengenal beberapa
media dan bahasa simbol mereka seperti dalam gaya berpakaian,
gaya berdandan (tatto, cat rambut, rias wajah, tindik, peniti,
rantai, logo nazi, tengkorak dan lain-lain), juga gaya
berbicara, gaya berjalan, gaya menari, peristilahan, sastra
(sajak, novel, lirik lagu), gaya hidup, merek pakaian, merek
motor dan sebagainya. Wah, ternyata banyak juga ragamnya, ya?
Nah, mereka inilah yang disebut oleh dunia fashion sebagai
fenomena gaya jalanan (street style).
Masih menurut Haldani D, funky merupakan kata sifat dari kata
dasar funk yang berarti (bau) busuk atau stinky. Nah lho,
negerinya grandong ini ada grup musik dengan pake dua nama tadi,
tebak sendiri aja lah. Seperti halnya pemutar-balikan makna bad
(baca: jelek, buruk atas sesuatu hal) menjadi cool (baca; keren
atas sesuatu hal tadi) yang muncul di era gaya ini, istilah funk
juga mengalami pergeseran makna (seolah bagi kalangan mereka)
positif, yaitu semerbak wangi. Mengapa? Di tengah suasana yang
serba tidak menyenangkan (tertekan, miskin, muram, kumuh, yang
berhubungan dengan makna harfiah funk) mereka justru
mengekspresikannya dalam bentuk atau selera yang justru
berlawanan, seperti memainkan, menari,dan mendengarkan musik
yang berirama menyenangkan, gembira, beat yang tegas, serta
erotik. Ditambah cara berpakaian yang juga menyenangkan seperti
berkesan seksi dan gemerlap. Wuah, 'syerem' juga ya?
Brur, ekspresi ini sungguh dinilai amat berlawanan dengan
ekspresi kelompok menengah kulit putih yang pada saat bersamaan
(pada masa itu) justru sedang keranjingan gaya hidup Hippy yang
cenderung anti-materialistis seperti terlihat dari gaya
berpakaian dan berdandan mirip gembel atau pengembara miskin.
Sekarang, gaya model begini, kamu bisa temukan juga dengan mudah
di negeri ini. Karena motif 'ideologinya' berbeda, yaitu ingin
keluar dari himpitan atau kesan kemiskinan perkampungan ghetto,
kelompok funk ini jelas ingin tampil dan terlihat cool dengan
bergaya serba gemerlap dan berkesan mahal. Jadi, di antara
musisi jazz dan orang negro Amerika, istilah funk menjadi suatu
yang bercitra positif dan kental dengan aroma kesenangan
seksual.
Secara lebih luas di antara tahun 1950 sampai 1970-an gaya funk
berhubungan dengan kekuatan atau daya erotik dan gairah seksual.
Sementara kata sifat funky diterapkan pada suatu yang berkaitan
dengan black music hingga ke soul food. Sedangkan di bidang gaya
berpakaian dan cara berdandan, penerapan istilah fungky merujuk
pada suatu gaya yang lahir di awal tahun 1970-an yang disebut
Pimp Look (pimp =germo/mucikari) yang muncul di sekitar
perkampungan kumuh orang kulit hitam (ghetto) Amerika.
Gaya ini kira-kira serupa dengan gaya yang ditampilkan para
germo dan pekerja jalanan lainnya dalam 'memamerkan' angan-angan
kesuksesan dan kemakmuran mereka. Para ahli juga mensinyalir
adanya kaitan logis gaya funky dengan gaya Zooties di era
1940-an yang juga berawal dari kalangan yang secara materi serba
kekurangan. Gaya funky dapat kita 'kenang' antara lain
peninggalan karakternya yang khas seperti gaya rambut AFRO
(kribo), kacamata dragon fly (bulat dan besar), bahan kulit yang
lembut dan tebal (suede), topi model pimpmobile atau voluminous
hunting cap, celana cutbray dan sepatu dengan model hak tinggi
(sekitar 12 cm).
Gaya funky juga bisa ditemukan dalam film laga Shaft yang
dibintangi Richard Roundtree di tahun 1971 (Pasti kamu masih
dalam kandungan bundamu), malah muncul gaya funky yang
dieksploitasi, yang diistilahkan dengan kata sindiran,
blaxplotation. Wah, ternyata memang gaya funky itu kental dengan
nuansa peradaban Barat, ya? Iya, dong, soalnya Islam nggak
mengajarkan budaya model begitu.
Islami Vs Funky
Oke sobat, setelah udah pada tahu latar belakang gaya funky,
tentu saja sebagai seorang muslim kita wajib tahu pula pandangan
Islam seputar masalah tersebut. Bukan apa-apa, bahwa sebagai
seorang muslim wajib terikat dengan aturan-aturan Islam. Nggak
boleh sedikit pun perbuatan yang kita lakukan diluar aturan
Islam. Termasuk dalam soal gaya hidup ini. Tingkah laku kita
dalam berpakaian, bergaul, dan berbuat harus selalu disandarkan
pada aturan Islam. Mutlak, lho. Nggak bisa ditawar-tawar lagi.
Seperti sekarang teman-teman remaja lagi kegila-gilaan niru gaya
funky, maka itu harus kita 'tanyakan' kepada Islam, boleh apa
nggak berdandan model gitu?.
Nah, berkaitan dengan gaya funky ini, Islam punya pandangan,
Brur, bahwa budaya tersebut sangat bertentangan dengan aturan
dan hukum-hukum Islam. Gimana nggak, gaya funky yang kerap
diekspresikan lewat dandanan, tingkah laku, dan gaya hidup itu
"nothing" dalam Islam. Tentu itu bila dilihat dari lahirnya
budaya bejat tersebut. Dalam soal berpakaian, Islam sudah
mengatur, bahwa pakaian yang dikenakan tersebut wajib menutup
aurat. Firman Allah SWT yang artinya : "Hai anak Adam, Kami
telah menurunkan kepada kamu pakaian untuk menutup aurat kamu
dan pakaian indah untuk perhiasan." (al-A'raaf: 26).
Tapi bagaimana dengan anak funky?, rambutnya aja kayak sarang
burung walet begitu. Dicat warna-warni, dipermak seperti durian,
atau malah yang lebih serem lagi rambutnya 'disulap' seperti
topi tentara Romawi, tahu kan? Yes, potongannya rada mirip
rambut ala si BA di film The A Team, Lebih jelasnya, bila kamu
pernah lihat film Gladiator, kayaknya bisa kebayang deh
bagaimana 'rupa' topi Romawi itu.
Belum lagi pakaiannya yang amburadul banget, malah dalam keadaan
tertentu ditemukan pula gaya pakaian 'kaum' funky yang sulit
membedakan mana cowok dan mana cewek. Huhui ih, gawat juga ya?
Bingung juga memang, kalo ada anak cowok yang mempermak wajahnya
dengan kosmetik dan lebih mirip anak cewek, lalu aksesoris yang
biasa dikenakan anak cewek seperti anting, eh, dipakai pula oleh
anak cowok, udah gitu rambutnya panjang lagi, kan berabe, iya
nggak? Salah-salah malah ketuker manggil. Padahal, gaya funky
model begini bisa menjerumuskan kepada larangan menyerupai lawan
jenis. Laki-laki terlarang berpenampilan menyerupai anak cewek,
begitupun sebaliknya.
Imam Bukhori meriwayatkan, bahwa Ibnu Abbas r.a. berkata:
"Rasulullah saw. melaknat laki-laki yang berlagak perempuan dan
perempuan yang berlagak laki-laki." Kemudian Abu Dawud
meriwayatkan, bahwa Abu Hurairah r.a. berkata: "Rasulullah saw.
melaknat laki-laki yang meniru (dengan) pakaian perempuan dan
perempuan yang meniru (dengan) pakaian laki-laki." (Riadhus
Shalihin, Jilid I, hlm. 490).
Haruskah, itu dibiarkan?
Yes, pilihan terbaik memang kita harus menjegal atau mencegah
jangan sampai budaya funky itu mengakar dan menjasad dalam gaya
hidup kita. Karena nggak mustahil lambat laun bakal 'mempermak'
kita menjadi berselara Barat dalam bertingkah laku model Barat.
Kalo sampai kejadian, wuah, bahaya besar, Bung!
Ironisnya, kondisi seperti ini memang diperburuk dengan cara
pandang kita yang salah dalam menyikapi trend. Bahwa sesuatu
yang dianggap baru, adalah sebuah trend yang harus kita
dijelajahi. Kita menganggap bahwa kita harus mencobanya, bahkan
bila perlu dan memungkinkan, kita akan menganggap trend tersebut
wajib diamalkan. Itu cara pandang yang salah. Seharusnya, bila
itu menyangkut urusan gaya hidup peradaban tertentu, kita harus
hati-hati dan bijak dalam bersikap. Bahkan wajib menahan diri
untuk tidak latah. Karena siapa tahu memang trend itu justru
menjerumuskan kita kepada kesalahan dan dosa. Ya, kayak kasus
funky itu. Bisa jadi 80 % pelakunya adalah remaja Islam. Apakah
itu akan tetap kita biarkan? Tentu nggak dong sayang. Kita harus
mencegahnya agar tidak menyebar dan meracuni pemikiran dan jiwa
remaja. Karena tingkah laku, sangat berhubungan erat dengan
pemahaman. Bila salah memahami, nggak mungkin tingkah lakunya
benar. Catet, ya!
Yang lebih memprihatinkan, saat ini justru kebanyakan kita diam
melihat kemunkaran yang ada. Lebih gokil lagi, sebagian dari
teman-teman remaja malah larut dalam trend yang sesat dan merasa
enjoy menikmatinya. Wah, benar-benar rusak dong kalo begitu.
Upaya pencegahannya tentu harus menyeluruh. Memang yang pertama
kali harus disamakan adalah persepsi berpikirnya. Yang
menyatakan bahwa trend tersebut memang rusak dan berbahaya. Bila
ini sudah sepakat, maka akan mudah melangkah ke 'pintu'
penyelesaian berikutnya. Tapi bila masih nggak kompak dalam
menilai trend tersebut, rasanya memang sulit untuk bisa dicegah.
Harus kompak, baik individu, masyarakat dan juga penguasa. Dalam
sistem Islam, trend funky ini nggak bakalan menjamur seperti
sekarang ini. Jangankan muncul dan berkembang, baru 'tumbuh' pun
segera akan dipangkas. Itulah 'gaya' Islam dalam menumpas
kemaksiatan. Pokoknya, nggak tangung-tanggung deh. Tentu sikap
Islam seperti ini hanya akan kita dapatkan bila Islam diterapkan
sebagai akidah dan syariat dalam sistem pemerintahan yang
berlandaskan Islam. Bukan yang lain. Jadi, nggak kelas deh
tampil funky.
Mari bergabung dalam komunitas muslim terbesar di
http://www.myquran.org !
Segala puji-pujian bagi Allah pencipta alam semesta.
Selawat dan salam ke atas junjungan kita,
nabi Muhammad SAW.
selawat dan salam kepada kaum keluarga dan juga tidak lupa kepada
sahabat-sahabat baginda yang kita kasihi.
Assalamualaikum dan salam sejahtera.
Email ini kakros petik dari salah satu group yang lain.
meski pun ianya di tuju kepada kaum remaja namun bagi kita yang dewasa ini
juga tidak terlepas melakukannya.
Oleh itu sama-samalah kita mengambil iktibar di bawah ini agar kita juga
dijaui dari pada melakukan
perkara-perkara yang tak sepatutnya kita lakukan.
Jika ada di antara kita yang masih mengamalkannya di harap mulai tahun
hadapan hentikanlah perbuatan tersebut.
Sekian Wassalam.
Remaja Islam Dikepung Budaya Kufur
PERNAHKAH anda berjalan-jalan pada bulan Februari di pusat beli-
belah, kedai-kedai buku, atau ke mana-mana sahaja dan cuba perhatikan
di sekeliling anda, di dinding-dinding atau langit-langit terpampang
gambar warna merah jambu, ada yang berbentuk dua buah hati jambu dan
sebagainya yang pastinya akan mengundang pelbagai perasaan dalam hati.
Memangnya, ada apa dengan bulan Februari ini, sehinggakan banyak
terpampang gambar hati merah jambu? Di antara meriahnya warna merah
jambu terpampang tulisan besar-besar `Happy Valentine Day', di
televisyen dan radio, majalah mahupun akhbar juga seolah-olah tidak
ingin ketinggalan menampilkan iklan Hari Valentine, memanfaatkan
isu `valentine day' dengan menyelenggarakan pelbagai acara yang
kebanyakkannya boleh merosakkan akhlak muda mudi dan para remaja.
Apa yang jelas, Valentine Day bukan saja diraikan oleh para remaja,
tetapi juga oleh para ibu bapa terutama di kota-kota besar seperti
Kuala Lumpur ini. Maka penuh sesaklah restoran-restoran mewah, hotel-
hotel mewah dan ruang-ruang mewah dengan acara memperingati kekasih
dengan cara yang di luar batas-batas kehendak Islam.
Pandangan Islam terhadap perayaan Valentine Day telah jelas haram dan
terkeluar dari syariat Islam. Juga jelas haram dan membelakangkan
syariat Islam mengenai aktiviti para remaja yang ikut-ikutan
merayakan `valentine day' dengan membabi buta, disertai aktiviti
campur baur antara lawan jenis, dan perbuatan maksiat lain.
Islam adalah akidah dan syariah, di dalamnya terkandung aturan
seluruh kehidupan manusia. Tidak ada satu pun kehidupan yang tidak
diatur oleh Islam, dan setiap Muslim wajib `mengikat' seluruh
perbuatannya dengan hukum syarak, diharamkan ia melakukan perbuatan
tanpa mengetahui status hukumnya, sebagaimana kaedah fekah,
mengatakan `al aslu fi al af'al ataqiyudu li al hukmi syar'i' yang
bermaksud `Asal (pokok/hukum) perbuatan itu terikat dengan hukum-
hukum syarak.'
Allah s.w.t berfirman yang bermaksud:
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman sehingga
mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka
perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu
keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima
dengan sepenuhnya." (An-Nisa: 65)
Firman Allah s.w.t lagi yang bermaksud:
"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa
yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu
mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak
memalingkan kamu daripada sebahagian apa yang telah diturunkan Allah
kepadamu. Jika mereka berpaling (daripada hukum yang telah diturunkan
Allah), maka ketahuilah bahawa sesungguhnya Allah menghendaki akan
menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa
mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang
fasik." (Al-Maidah: 49)
Jelaslah daripada ayat-ayat di atas, setiap Muslim wajib mengikatkan
seluruh perbuatannya dengan apa yang Allah telah turunkan dalam al-
Quran dan Sunnah, dan dilarang keras kita mengambil hukum selain dari
hal tersebut. Tidak dijadikan akidah Islam sebagai ikatan pemutus
seluruh perbuatan manusia dewasa ini merupakan faktor kenapa ramai
remaja sekarang terperosok dalam perbuatan haram, di samping itu
ketidakfahaman mereka terhadap hal tersebut, dan budaya ikut-ikutan
memainkan peranan ini.
`Berkasih-sayang' versi Valentine ini, haruslah diketahui terlebih
dahulu hukumnya, lalu diputuskan apakah akan dilaksanakan atau
ditinggalkan. Dengan melihat dan memahami asal-usul serta fakta
pelaksanaan Valentine Day, sebenarnya perayaan ini tidak ada sangkut-
pautnya sedikit pun dengan corak hidup seorang muslim. Tradisi tanpa
dasar ini lahir dan berkembang dari segolongan manusia (kaum/bangsa)
yang hidup dengan corak yang sangat jauh berbeza dengan corak hidup
berdasarkan syariat Islam yang agung.
Jika kita fahami nas-nas syarak dengan lebih mendalam, akan kita
dapati aturan yang tegas terhadap masalah ini, antara lain firman
Allah s.w.t yang bermaksud:
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya
akan diminta pertangggungjawaban." (Al-Isra': 36)'
Di sini amatjelas Valentine Day adalah budaya orang kafir, yang
terang-terang kita dilarang untuk mengamalkannya. Dalam hal ini, kita
dilarang menyerupai budaya yang lahir daripada peradaban kaum kafir,
yang jelas bertentangan dengan akidah Islam, sementara yang boleh
diambil daripada semua orang (termasuk kafir) adalah dalam masalah
teknologi, budaya yang tidak lahir dari pandangan hidup mereka;
seperti bahasa asing, menanam padi yang baik, membuat kapal terbang,
komputer, kenderaan bermotor, kereta dan lain-lian lagi bahkan kita
dituntut untuk mendalami ilmuilmu tersebut.
Hal ini diperkuatkan dengan sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud:
"Barangsiapa menyerupai sesuatu kaum maka dia termasuk daripada
golongan mereka." (Riwayat Abu Daud dan Imam Ahmad daripada Ibnu Umar)
"Tidak termasuk golonganku orang-orang yang menyerupai selain
golongan umatku (umat Islam)." (Riwayat Tirmidzi daripada Amru bin
Syu'aib).
Maka, sangat jelas kita tidak dibolehkan `tashabuh', menyerupai,
meniru-niru cara hidup orang kafir yang lahir dari pandangan
hidupnya, sudah seharusnya kita tinggalkan semua budaya kufur
tersebut jauh-jauh.
Aktiviti muda-mudi ketika merayakan `valentine day' juga banyak yang
melanggar syarak, mereka melakukan aktiviti berdua-duaan/khalwat,
antara berlainan jantina, saling bercumbuann, berpegangan tangan,
kadang-kadang dilakukan secara ramai-ramai, bercampur gaul lelaki dan
wanita yang bukan mahram, disertai dengan alunan muzik, saling rayu-
merayu. Padahal sudah sangat jelas bahawa hukum asal kaum wanita dan
lelaki adalah terpisah sebelum ada dalil / keperluan syarie yang
menuntut bertemunya mereka, misalnya berniaga, bekerja, beribadah,
menunaikan haji, solat, menikah, dan sebagainya. Itupun mereka harus
memperhatikan syarat-syarat pergaulan / akhlak wanita berhubungan
dengan lelaki, menutup aurat dengan memakai kerudung dan jilbab,
tidak berdandan berlebihan, dan sebagainya.
Nabi s.a.w bersabda yang bermaksud:
"Barangsiapa melakukan amalan yang tiada didasari perintahku (Quran
dan Sunnah), maka amal perbuatannya tertolak." (Riwayat Ahmad)
Sesungguhnya, ikut merayakan hari `valentine' adalah tindakan
tercela, dan haram bagi kaum Muslimin untuk merayakannya. Valentine
sendiri akar kemunculannya daripada orang kafir, Barat, lebih-lebih
lagi kemunculan tersebut berasal daripada budaya Yahudi, maka sudah
sepatutnya kaum muslimin wajar meninggalkan hal tersebut.
MENENTUKAN SIKAP
Amat jelas sikap yang harus diambil oleh kaum muslimin, bahawa
merayakan hari `valentine' bermaknai meniru adat/budaya kufur kaum
lain, padahal kita dilarang untuk mengikutnya, mengambil cara hidup
yang lahir daripada akidah selain Islam, seperti valentine day, juga
pemahaman hak asasi manusia, kapitalisme, sosialisme dan lain-lain
lagi.
Sudah cukup kita hanya mengambil pandangan hidup yang lahir daripada
akidah Islam kerana sudah jelas bahawa Islam adalah agama yang
sempurna.
Begitu juga Allah s.w.t telah menyuruh umat-Nya supaya
mengikuti'standard' halal-haram, menjadikan Rasulullah s.a.w sebagai
ikutan, mengambil apa yang dicontohkannya dan meninggalkan perkara
yang dilarangnya, sebagaimana firman Allah yang bermaksud:
"Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-
Nya (daripada harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka
adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-
orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu
jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa
yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang
dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya." (al-Hasyr: 7)
Maka, apa lagi yang kita tunggu selain meninggalkan bentuk ikutan
acara `valentine day' itu. Marilah serkarang kita mulai meninggalkan
sesuatu yang memang wajib diingkari, dan memulai untuk berusaha
menerapkan ajaran-ajaran Islam, memilih mana perkara yang tidak
bertentangan dengan Islam kita ambil, sementara perkara yang
bertentangan dengan Islam kita tolak dan tinggalkan.
Hendaknya kita renungkan katakata ahli sosiologi Ibnu Khaldun, "Yang
kalah cenderung mengikut yang menang, daripada aspek pakaian,
kenderaan, bentuk senjata yang dipakai, malah meniru dalam setiap
cara hidup mereka, termasuk di sini adalah mengikuti adat istiadat
mereka."
Hal itu selaras dengan apa yang telah disabdakan Rasulullah s.a.w
yang bermaksud:
"Tidak akan kiamat sebelum umatku mengikuti apa-apa yang dilakukan
bangsa-bangsa terdahulu, selangkah demi selangkah, sehasta demi
sehasta.' Di antara para sahabat ada yang bertanya: `Ya Rasululah,
apakah yang dimaksudkan (di sini) adalah bangsa-bangsa Yahudi dan
Nasrani?' Rasulullah menjawab: `Siapa lagi (kalau bukan mereka).'"
(Riwayat Bukhari)
Allah s.w.t berfirman yang bermaksud:
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga
kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: `Sesungguhnya petunjuk Allah
itulah petunjuk (yang benar)'. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti
kemahuan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak
lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (al-Baqarah: 120)
Istilah gaul dalam atmosfir kehidupan remaja. Bukan barang baru sebetulnya. Akrab malah. Ya, nggak man? Pokoke, ada istilah kaca mata gaul, anak gaul, pakaian gaul, bahasa gaul, malah ada juga ustadz gaul (kalo yang ini kira-kira apa yang membuatnya gaul, ya?). Pokoknya, serba gaul deh. Entah siapa yang memulai membikin istilah-istilah seperti itu, yang jelas remaja macam kamu begitu enjoy dengan sebutan anak gaul alias anak yang nggak kuper bin norak. Tul, nggak?
Hanya ada dua sebutan dalam pergaulan remaja, yang out of date dan up to date alias kuno (norak) dan keren. Ukuran kuno dan keren seringkali menjadi standar pergaulan. Misalnya, istilah kaca mata gaul, ini untuk menggambarkan tentang kaca mata yang melenceng dari fungsi aslinya, yakni bukan sebagai alat bantu baca atau pelindung mata saat melakukan pekerjaan di laboratorium untuk meredam radiasi sinar ultra violet. Tapi sudah berubah fungsi untuk ngeceng. Frame alias bingkainya berwarna ngejreng. Warna hitam, hijau, biru, merah, ungu kerap melengkapi aksesoris kaca mata gaul itu. Pokoknya heboh deh. Kira-kira bisa kamu lihat kaca mata yang dipakai oleh gerombolan dr. pm misalkan atau anak-anak Ska lainnya. Nah, itulah yang disebut gaul dan keren alias up to date dalam standar pergaulan remaja sekarang.
Begitu pun dengan sebutan anak gaul. Gambarannya anak ini enak diajak ngobrol, selalu nyambung dengan objek bahasan dan kesannya nggak norak, ngertiin keinginan kita. Itulah anak gaul. Misalnya, kalau lagi ngomongin soal musik, pasti gape. Kenal grup musik Linkin Park, Korn, Ungu, Nidji, Peterpan dan sejenisnya. Banyak yang akran dan hapal dengan para personel grup band Samsons, T2, atau fasih menyanyikan lagunya Rosa terbaru karya Melly Goeslaw, Ayat-ayat Cinta yang menjadi OST film Ayat-ayat Cinta.
Anak gaul juga biasanya ‘ngebusa’ soal film. Tahu siapa aja yang ikutan main di The Lord of the Rings, ngefans berat sama tokoh-tokoh di film Harry Potter, kesengsem ama para pemainnya Nagabonar 2 atau Get Married. Pokoknya gaul abis. Info yang berkaitan dengan musik, film, dan selebritisnya digeber lewat bacaan atau sering nongkrongin stasiun televisi tertentu. Ehm, sampe sebegitunya ya yang pengen disebut gaul?
“Gaul” ¹ Bebas Berbuat
Yup, memang begitu. Kalo kamu tahu soal perkembangan musik, sepakbola, film, mode, dan yang berhubungan dengan gaya hidup saat ini bukan berarti harus menjadi pelakunya dong. Sekadar tahu, memang nggak dilarang, kok. Malah seharusnya dijadikan sarana untuk mengetahui kerusakan dari budaya pop tersebut.
Cuma memang, bagi kamu yang masih polos kayak kaos oblong, jangan coba-coba untuk mengetahui lebih jauh. Bisa berabe. Jangan-jangan kamu malah latah ikut-ikutan gaul yang nggak benar. Firman Allah Swt.:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS al-Isrâ’ [17]: 36)
Nah, ayat ini bisa dipahami kalau kita wajib tahu hukum Islam tentang hal tersebut sebelum melakukannya. Because, sebagai seorang muslim kita wajib terikat dengan aturan Islam. Misalnya, tahu tentang perkembangan dandanan alias mode, bukan berarti kemudian kita latah untuk mencobanya. Padahal mode tersebut bertentangan dengan ajaran Islam. Seperti swimsuit alias pakaian renang dan tang-top, bagi kamu yang puteri dilarang memakainya di tempat-tempat umum atau di hadapan yang bukan mahromnya.
Allah Swt. berfirman:
“Katakanlah kepada wanita beriman. Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” (QS an-Nûr [24]: 31). Dalam lanjutan ayat tersebut, boleh menampakan ‘perhiasannya’ kepada mahromnya saja, seperti ayah, adik kandungnya dan seterusnya.
Tapi bagi kamu yang ingin tampil ‘ngetren’ dengan jilbabnya, misal warnanya cerah, modelnya nggak ngebosenin, pokoknya matching banget. Jadi, selain menutup aurat, kita juga bisa bergaya, asal tetap menjaga kesopanan dan etika Islam. Tambahan untuk yang pake jilbab, pastikan bahwa jilbabnya memenuhi standar yang ditetapkan Islam. Harus tebal, longgar, dan kainnya harus menyentuh tanah. Perlu kamu ketahui, yang namanya memakai jilbab bukan cuma kerudungan doang. Karena jilbab adalah (semacam) jubah—baju luar. Berarti busana muslimah adalah kerudung plus jilbabnya, dong!
Di lingkungan anak cowok suka ada acara ‘wajib’ gagah. Rasanya kurang afdhol kalau ternyata penampilannya bikin orang lain ‘keselek’. Atau postur tubuhnya kurang meyakinkan bagi jamaah cewek. Bodi yang keren kayak Ade Rai, dan wajah cool kayak David Beckham, sangat didambakan anak cowok. Latihan angkat barbel (backsound: barbel? Barang belanjaan maksydnya? Hehehe…) atau nimba air di sumur bisa jadi acara ‘wajib’ membesarkan bodi en tampil macho.
Dan ngomong soal tampil macho ini, yang katanya bisa bikin pede dalam gaul, ternyata tetap saja terpaku kepada yang namanya mode. Mode-lah yang telah menciptakan tren. Mode-lah yang telah mengubah persepsi anak cowok dalam bergaul.
Padahal keliru besar kalau anggapan keren dan beken atau anak gaul itu hanya dilihat dari bentuk luarnya saja, belum tentu mewakili. Kenapa? Karena manusia sering tertipu dengan tampilan luar. Sering menyangka emas, padahal tembaga, atau sebaliknya, mengganggap tembaga, ternyata malah emas.
Di jaman Rasulullah, para sahabat juga banyak yang keren, malah dalam beberapa riwayat, Ali bin Abi Thalib termasuk orang yang kuat dan perkasa, terbukti ketika dalam suatu peperangan, beliau menggunakan pedangnya yang terkenal, Zulfikar—yang mempunyai mata pedang bercabang dua—mampu membelah tubuh musuh. Ini luar biasa, dengan ukuran pedang yang gede banget dan tentu saja tenaga yang dibutuhkan untuk mengangkat dan mengayunkan pedang sebesar itu bukan main hebatnya. Tapi Ali r.a. tetap kalem dan nggak punya cita-cita untuk show of force alias pamer kekuatan di hadapan para sahabat lainnya. Sayidina Ali tetap low profile. Tapi ada juga sahabat penampilannya ‘biasa-biasa’ aja malah ada juga yang ‘nggak meyakinkan’ seperti Abdurrahman bin ‘Auf yang punya cacat pada kakinya. Tapi Rasulullah memuji keluhuran akhlak dan pengetahuan mereka.
Bagi jamaah cowok, tampil meyakinkan itu perlu. Tapi jangan sampai merasa wajib untuk tampil macho supaya bisa disebut anak gaul. Membina tubuh agar tetap fit setiap hari boleh-boleh saja, malah dalam beberapa kasus bisa jadi harus, untuk berjihad, misalnya. Nggak masalah. Hanya saja bodi macho bukan segala-galanya. Rasulullah bersabda: “Bukanlah orang yang kuat itu adalah yang menang dalam bergulat, tetapi adalah orang yang dapat menahan nafsunya tatkala dia marah,” (HR Muslim)
Jadi, macho or modis bukan ukuran kepribadian, Brur. Soalnya, percuma saja kalo performance kamu keren, gaul, macho, modis tapi ternyata kelakuan kamu nggak jauh dari para preman. Yang tentu saja nggak punya kepribadian Islam.
Seseorang yang dikatakan punya kepribadian luhur tatkala mempunyai pola pikir dan pola sikap yang tinggi. Seseorang dikatakan punya kepribadian Islam, berarti dia punya pola pikir dan pola sikap yang islami. Detilnya, ia selalu berpikir secara Islam ketika menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupannya. Dan dilengkapi dengan sikap jiwa yang tentu saja selalu disandarkan kepada ajaran Islam. Jadi, percuma saja kamu tampil macho or modis, tapi ternyata kelakuan kamu nggak beda sama Sylvester Stallone, yang punya bodi kekar dan keren, tetapi suka melecehkan kaum Hawa.
Nah, sekali lagi, sekadar tahu saja agar bisa ngikutin perkembangan yang ada, nggak masalah. Tapi kalo sudah diaplikasikan dalam kehidupan itu ada aturannya tersendiri. Bila kemudian ternyata bertentangan dengan aturan Islam, maka terlarang bagi kita untuk melakukannya. Tapi bila hal itu bersifat universal, nggak masalah seperti yang telah dijelaskan tadi. Jadi gaul bukan berarti bebas berbuat. Gitu, Brur en Ses!
Masyarakat sakit
Oya, berbagai problem kehidupan ini adalah penyakit bagi masyarakat. Mengapa masyarakat sakit? Sebab masyarakat salah ‘asuhan’. Yang seharus diasuh oleh ajaran Islam, ini malah diasuh oleh ajaran dari Barat yang dipopulerkan oleh para selebriti lewat musik, film, iklan, dan sinetron. Semua membawa racun-racun bagi kehidupan.
Kalau zaman dulu Whitney Houston, Natalie Cole, Nikka Costa, Diana Ross, bener-bener ngejual suara, tapi kebanyakan vokalis akhwat eh cewek sekarang jadi jual bodi. Tengok saja sederatan biduan fave remaja macam Britney Spears, Christina Aguilera, Shakira, Pink, Kylie Minogue, J-Lo (Jennifer Lopez), Destiny’s Child, Atomic Kitten pada berlomba pamer aurat. Bahkan grup instrumentalia macam Bond aja merasa ‘wajib’ menunjukkan keseksian tubuhnya. Ya kebanyakan dari mereka adalah penganut aliran moderat, alias modal dengkul dan buka aurat. Amit-amit deh, meskipun imut-imut!
Gaya hidup boros dan suka pamer juga diajarkan para seleb. Kamu pernah nonton acara MTV Cribs, tayangan televisi versi MTV yang isinya pamer kemewahan dan kegilaan para selebritis dari berbagai bidang hiburan dan olahraga? Yup, di sana ada cerita seleb yang ngoleksi mobil mewah sekelas BMW, Mercy, Porsche atau Jaguar sampe enam belas biji! Suer ini mobil betulan, bukan mobil-mobilan. Ada juga atlit basket NBA yang punya rumah kayak hotel dengan sembilan belas kamar. Belum lagi cincin berlian, kalung bertahtakan permata, dan sebagainya. Sepertinya seleb itu selalu berbanding lurus dengan punya duit banyak, kendaraan oke punya, rumah pun mewah.
Kalo kamu tergoda? Waduh, sebetulnya jangan sampe tuh. Tapi sayangnya, kini kita melihat kasus-kasus remaja yang nggak jauh dari seks bebas, narkoba, kriminalitas, dan kasus lainnya. Pokoknya ngeri deh, karena kita udah bermesraan dengan ide permisivisme (serba boleh), hedonisme (pemujaan terhadap kenikmatan jasadi dan materi), Ciloko tenan!
Nah, kalo sakit begini siapa yang bisa menyembuhkan? Tentunya kita semua. Anggota masyarakat ini, termasuk kamu yang remaja. Kitalah ‘dokter’ yang akan menyembuhkan masyarakat. Lha, kita kan nggak ngeh apa yang bakal kita lakuin untuk menyembuhkan penyakit itu? Yup, makanya kudu belajar supaya ngerti. Betul?
Wajib “Gaul” dengan Islam
Sobat muda muslim, solusi dari salah gaul ini adalah back to Islam. Kita kudu gaul abis dengan Islam. Kita terhina, justru karena kita meninggalkan ajaran Islam. So, mari kita mulai mencintai Islam sepenuh hati biar gaul kita juga sehat.
Berlajar adalah salah satunya biar kita lebih kenal dengan Islam. Pokoknya kamu kudu tampil cerdas dan bertakwa deh. Kayaknya perlu dengerin nih nasihatnya Imam Syafi’i, “Sesungguhnya kehidupan pemuda itu, demi Allah hanya dengan ilmu dan takwa (memiliki ilmu dan bertakwa), karena apabila yang dua hal itu tidak ada, tidak dianggap hadir (dalam kehidupan).”
Ayo, kita bisa buktiin bahwa kita bisa tampil beda. Sebagai remaja Islam, kita kudu bangga menyandang gelar umat terbaik. Iya dong, kan Allah udah nyebutin di al-Quran:
“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, yang senantiasa menyeru kepada yang ma’ruf (yang sesuai dengan ketentuan syari’at Islam) dan mencegah kemungkaran (yang menyalahi dan bertentangan dengan syari’at Islam) dan beriman kepada Allah”. (QS al imran [3]: 110)
Oke deh mulai sekarang jangan malas mengkaji Islam, supaya jadi remaja yang cerdas dan bertakwa. Kita kepengen banget lho jadi remaja oke. Mari kita niatkan bahwa belajar Islam itu untuk ibadah. Terus ilmu yang didapat kita diamalkan dalam kehidupan. Oya, kaji Islam jangan setengah-setengah. Udah gitu, kita tekadkan bahwa kita nggak betah hidup nyantai dan hura-hura. Hingga akhirnya kita menjadi remaja Islam yang kuat iman, kuat ilmu dan kuat takwanya. Kalo udah gini, insya Allah kamu nggak bakalan salah gaul lagi. Sebaliknya, gaulmu sehat bersama Islam.
Jadi yang namanya anak gaul itu bukan berarti harus tampil all out dengan bebas kelewat batas. Lepas dari nilai-nilai Islam. Islam nggak pernah melarang umatnya untuk keren. Keren di sini maksudnya nggak ‘kumuh’. Bahkan Islam menganjurkan umatnya supaya tampil rapih dan meyakinkan. Karena itu bagian dari adab bergaul dengan masyarakat. Dengan kata lain, kita nggak boleh tampil kucel en dekil.
Bila kamu gape bicara soal musik, film, bola, jangan sampe itu membuat kamu terobsesi untuk bisa tampil seperti para pelakunya. Malah kamu jangan cuma gaul dalam urusan-urusan tadi saja, tapi wajib “gaul” juga soal hukum dan pemikiran Islam secara lebih luas. Caranya? Ya, ngaji dong, Non!
Tentu, harus dipahami bahwa dalam kondisi masyarakat yang amburadul seperti sekarang ini, kita harus selektif. Buat apa tampil “gaul” kalo harus mengorbankan akidah dan kepribadian Islam, iya nggak? Mendingan perdalam Islam supaya bisa selamat dunia dan akhirat. Meski tentu saja Islam tak pernah ‘alergi’ dengan yang namanya perkembangan jaman, tapi dengan catatan, hal itu sesuai dengan ajaran Islam. Jadi begitu, Bro!
Kehidupan para santri ternyata bisa diangkat kisahnya jadi cerita yang lumayan menarik. Paling nggak bisa kita nikmati dalam sinetron yang tayang di TPI akhir-akhir ini (setiap hari Minggu, jam 19.00 WIB). Yup, judulnya Santriwati Gaul. Dibintangi tiga artis remaja yang ngetop sebelumnya di layar lebar. Mereka adalah Zhi F, Tania Harjosoebroto dan Fitria Rachmadina. Zhi F dan Tania adalah pemeran di film horor Bangku Kosong. Sementara Fitria Rachmadina di film Bintang di Surga. Oya, pemeran lain di sinetron Santriwati Gaul ini adalah Gunawan dan Renny Umari.
“Selama ini, pesantren masih dianggap sebagai pilihan sekunder dalam sebuah sistem pendidikan formal di negara kita. Padahal, tak sedikit pesantren modern yang punya sistem pendidikan yang bagus,” ujar sutradara Gambulano APH mengenai misi yang terkandung dalam Santriwati Gaul (http://seputar-indonesia.com, 20/01/2007)
Lebih lanjut menurut Gambulano, Santriwati Gaul adalah sinetron sosial dengan pendekatan komedi berlatar belakang pesantren dengan tiga orang gadis remaja sebagai tokoh utamanya. Mereka adalah sosok remaja yang tengah mencari jati diri, layaknya remaja lain. Namun karena alasan tertentu, ketiga orangtua mereka memilih pesantren sebagai lembaga pendidikan yang dapat membimbing anak gadis mereka menjadi manusia yang bisa diharapkan di kemudian hari.
“Pada intinya, tiga santriwati yang menjadi inti dalam sinetron ini adalah gambaran gadis remaja pada umumnya,” ungkap Gambulano. Dikisahkan, Aulia (Zhi F), Betty (Tania Harjosoebroto), dan Mardiyah (Fitria Rachmadina), tiga murid Pesantren Kharisma Hati yang tinggal sekamar dan bersahabat. Aulia adalah anak pengusaha kaya yang cantik, modis, gaul, berani, serta memiliki gaya bicara ceplas-ceplos. Sementara Betty, seorang gadis gendut, gemar makan, cuek, berani, tetapi sembrono, datang dari keluarga pedagang kaya. Adapun, Mardiyah adalah gadis keturunan priyayi Solo yang cantik, jujur, dan lugu. Oya, Aulia adalah sosok yang mengenal seluk-beluk dunia remaja metropolis.
Bro, cerita di sinetron ini cukup unik dan karakternya cukup kuat dari setiap tokohnya. Selain karakter tiga santriwati seperti yang udah dipaparkan tadi, ada juga karakter ustad Sobri yang diperankan Gunawan. Digambarkan bahwa ustad Sobri ini orangnya bijaksana, pintar, welas asih, gentleman ditambah paras yang rupawan. Karakter berikutnya adalah Ustadzah Habibah (Renny Umari) yang rada-rada galak, sinis (terutama kepada Aulia), judes, dan suka caper alias cari perhatian (terutama dari ustad Sobri).
Inilah sekilas gambaran tentang sinetron Santriwarti Gaul keluaran Starvision yang kini sedang tayang di stasiun televisi TPI.
Masih minim tuntunan
Sebagai sebuah tontonan yang menghibur, sinetron ini cukup menyegarkan di tengah derasnya sinetron remaja yang melulu tentang cinta dan hedonisme. Santriwati Gaul boleh dibilang beda. Meski tentu saja masih memiliki kekurangan di sana-sini. Terutama soal pesan tuntunan Islam yang ingin disampaikan dalam cerita itu masih kurang menekan.
Sekadar contoh aja dalam dua episode yang pernah tayang, Kamus Nabi Yusuf dan Kemelut di Tengah Musibah. Kalo dilihat dari segi penceritaan bisa dibilang lumayan bagus. Alurnya mengalir enak dan banyak adegan kocak yang segar. Tanpa dibuat-buat. Namun, soal isi masih perlu pembenahan. Misalnya tentang hubungan pergaulan antara laki dan wanita. Memang, dalam kehidupan nyata tentang longgarnya pergaulan antara laki dan perempuan, termasuk di lingkungan pesantren, faktanya memang ada. Bahkan sangat boleh jadi dalam sinetron ini adalah menangkap pesan yang udah nyata di lapangan.
Dikisahkan misalnya dalam episode Kamus Nabi Yusuf, Ustad Sobri yang merasa iba kepada Rena, yang mengaku bahwa perbuatan tak terpuji yang dilakukannya kepada Aulia dkk adalah karena minimnya pemahaman agama, akhirnya mau ngajarin Rena mengaji.
Nah, sebetulnya di sini jadi masalah. Sebab, pergaulan antara laki dan perempuan masih longgar. Padahal, supaya nggak terjadi hal-hal yang bisa mengantarkan kepada maksiat atau minimal fitnah, seharusnya Ustad Sobri nggak ngajarin Rena ngaji (kan bisa sama ustadzah atawa santriwatinya). Apalagi hal itu dilakukan di luar pesantren, yakni di rumah Rena. Udah gitu, nggak ada mahramnya lagi. Wah, dalam kehidupan nyata pun, kata Rasulullah saw., setan adalah pihak ketiga yang menyertai pertemuan mereka. Terbukti, dikisahkan bahwa Rena sebenarnya pura-pura aja minta diajarin ngaji karena niat utamanya adalah ingin memperdaya Ustad Sobri dan berusaha untuk memfitnahnya bahwa Ustad Sobri hendak memperkosanya.
Masih di episode itu, Ustad Sobri juga digambarkan mau aja alias nurut ketika Ustadzah Habibah meminta ditemenin ke toko buku. Lucunya, pas hendak ke toko buku, mereka berdua kepergok Ustad Mubin. Tapi Ustad Mubin bukannya melarang mereka agar tidak berduaan (berkhalwat), eh ternyata malah ngajak mereka naik mobilnya dengan alasan tempat yang akan ditujunya searah dengan yang dituju Sobri-Habibah. Waduh!
Oya, dalam episode Kemelut di Tengah Musibah juga sama, meski niat Ustadzah Habibah untuk berangkat umrah bareng Ustad Sobri nggak kesampaian, tapi penggambaran sikap Ustad Sobri yang mau saja diajak bareng sama Ustadzah Habibah pergi umroh menjadi fakta bahwa aturan pergaulan pria-wanita itu sangat longgar. Padahal, mereka jelas-jelas dalam cerita itu bukan mahram.
Sobat, ini memang kisah fiksi. Bahkan sangat boleh jadi terinspirasi dari kehidupan nyata. But, jika emang ingin memberikan tuntunan, bisa ditayangkan pesan singkat dari seorang ustad yang mengomentari cerita sinetron yang baru saja ditayangkan. Misalnya, “Sinetron yang baru saja Anda saksikan, memang gambarannya bisa jadi ada dalam kehidupan nyata di sekitar kita. Namun, penggambaran dalam sinetron ini hanyalah sebagai salah satu pemaparan fakta dalam bentuk visual. Bahwa inilah akibat longgarnya aturan yang mengikat hubungan antara laki-perempuan yang sebenarnya sudah dijelaskan dalam Islam. Sehingga pemirsa diharapkan tidak terinspirasi dengan isi cerita ini untuk melakukan kemaksiatan”
Hmm.. tapi kalo pesan singkat dari tokoh agama di akhir cerita dianggap sebagai bentuk yang menggurui atau menghakimi, bisa saja diciptakan satu tokoh yang terlibat dalam cerita itu yang selalu menjadi pengingat bagi beberapa adegan maksiat atau mendekati maksiat yang dilihatnya. Sehingga pemirsa menjadi tahu bahwa sebenarnya mereka sedang diberikan wawasan baru. Mengkritisi fakta dengan standar ajaran Islam. Bukan malah pemirsa dibiarkan menilai sendiri.
Boys and gals, tapi terlepas dari itu semua, sebenarnya masih ada pertanyaan besar: bolehkah secara hukum syara, orang-orang yang terlibat dalam sinetron tersebut itu dan melakukan adegan yang sebenarnya bertentangan dengan ajaran Islam? Sebab, gimana pun juga sebagai Muslim kita terikat dengan aturan Islam. Belum lagi kalo ngomongin soal perilaku para pemeran di luar sinetron. Kita kadang berpikir: apa mereka kemudian nggak merasa harus menjadi baik terus setelah membintangi sinetron religi? Apakah itu hanya dilakukan sebatas tuntutan skenario aja? Lalu lenggang kangkung di luar sinetron; misalnya cuek aja nggak pake kerudung dan jilbab? Hmm.. lain kali mungkin kita bisa bahas deh.
Gaul tapi syar’i dong ya
Sobat muda muslim, Islam nggak melarang kok kita gaul. Tapi tentu aja syaratnya adalah bahwa gaulnya masih dalam batasan yang dibolehkan dalam ajaran Islam. Kalo ngelihat tayangan sinetron Santriwati Gaul, kayaknya ada yang perlu diluruskan deh. Terutama pergaulan yang kesannya longgar banget antara pria dan wanita, dan itu sangat boleh jadi memang faktanya banyak terjadi di kehidupan nyata, termasuk di lingkungan pesantren.
Padahal nih, alangkah lebih kerennya lagi kalo orang yang ngerti agama tuh nggak kuper dan paham batasan syariat. Orang-orang yang seperti Ustad Sobri dan Ustadzah Habibah sangat boleh jadi banyak di kehidupan nyata. Maklumlah, meski di lingkungan pesantren tapi kan dunia ini udah sangat sesak dengan aturan Kapitalisme-Sekularisme, sehingga boleh dibilang pengaruhnya bisa saja menggerus kehidupan para santri dan orang yang ngerti agama. Bisa aja kok. Sehingga jadi nggak ada bedanya dengan orang awam dalam kelakuannya kecuali simbol dan predikat yang menyertainya. Bahkan malah jadi malu-maluin kan orang yang paham agama tapi masih suka gaul bebas dengan lawan jenis. Halah!
Bro, idealnya memang orang yang ngerti agama tuh selain seneng mengenakan simbol agama, juga pikiran dan perasaannya taat juga dengan aturan agama. Kalo cuma mengenakan peci dan baju koko, siapa aja bisa dan mampu. Kalo hanya mengenakan kerudung dan jilbab, orang kafir aja bisa kok mengenakannya. Kita jadi nggak tahu apakah mereka muslim atau bukan. Bahkan sangat boleh jadi penilaian kita langsung menyimpulkan kalo yang mengenakan simbol agama (Islam) itu adalah Muslim atau Muslimah. Betul nggak? Wong dalam film Ar Risalah aja, pemeran Hamzah adalah bintang Hollywood bernama Anthony Queen, yang pada waktu itu bukan Muslim. Meski ada kabar (yang masih perlu dicek kebenarannya) setelah main di film itu, doi kemudian masuk Islam. Wallahu’alam.
Tapi soal pikiran dan perasaan yang akan menggerakkan tingkah laku kita, itu yang nggak bisa ditutup-tutupi. Rambut boleh ditutupi kerudung, seluruh tubuh dihijab jilbab, tapi kalo perbuatannya tak mencerminkan ajaran Islam, ya perlu dipertanyakan keislamannya. Misalnya, orang tersebut malah menyerang ajaran Islam dan semangat menyerukan ide feminisme.
Begitu pula kalo ada anak cowok yang pake peci, baju koko, berjenggot, aktif di rohis, tapi masih senang pacaran, atau minimal gaul bebas dengan lawan jenis (meski dengan sesama anak rohis), itu juga nggak bisa ditutup-tutupi karena udah nyata perbuatannya. Perbuatan yang bisa diukur sebagai pembeda mana yang ngerti ajaran Islam dan yang nggak. Selain itu, tentu saja perbuatannya yang seperti itu adalah melanggar hukum syara’. Nah, jadi kudu ati-ati deh. Gaul tentang segala hal bukan berarti kemudian mencoreng predikat santri atau anak ngaji yang ngerti Islam. Jadi, kudu tahu batasannya, dan itu standarnya adalah Islam. Tul nggak sih?
Tunjukkin kepribadian Islam kita!
Sobat muda muslim, kepribadian Islam atau syakhsiyyah islamiyah kita itu nggak bisa dinilai langsung dari pakaian yang dikenakan, lho. Sebab, itu cuma aksesoris dan bisa dipake untuk nipu bin ngibulin orang. Tapi standar penilaian kepribadian Islam adalah pemikiran dan perasaan. Pemikiran dan perasaan Islam ini akan tergambar dalam sikap dan perbuatan. Itu udah pasti. Sebab, yang namanya tingkah laku pasti ngikutin pemikiran dan perasaan. So, kalo pemikiran dan perasaannya udah islami, insya Allah perbuatan dan tingkah laku juga bakalan Islami.
Itu sebabanya, kalo ada akhwat yang kepribadiannya udah islami, maka bukan saja ia gemar mengenakan jilbab dan kerudung, tapi juga pemikiran dan perasaannya senantiasa berdasarkan ajaran Islam. Beda banget kalo yang cuma nyadar dengan simbol doang, tapi belum mantap pemikiran dan perasaannya. Mungkin cuma seneng pake kerudung doang tapi kelakuannya nggak mencerminkan seorang muslimah. Iya nggak sih?
Maka, satu-satunya jalan untuk menumbuhkan kepribadian Islam kita adalah belajar. Yakni, belajar Islam dengan rutin dan intensif biar mantap, gitu lho. Kenapa harus belajar? Karena dengan belajar diharapkan kita bisa dapetin perubahan beberapa aspek, yakni aspek kognitif alias ilmu pengetahuan (tadinya nggak tahu tentang Islam jadi tahu banyak), aspek afektif alias perasaan atau emosi (tadinya nggak mau mengenakan jilbab jadi mau mengenakan jilbab karena tahu aturan dan hukumannya--pahala dan dosa), dan aspek psikomotorik alias keterampilan (tadinya nggak bisa pake jilbab jadi mahir pakenya). Oke?
Dakwah? Hmm.. kok kayaknya berat banget kedengarannya ya? Lho, emangnya kenapa? Sebagian teman remaja biasanya denger atau ngucapin kata dakwah terasa sangat berat. Telinga pekak en lidah kelu dan yang terbayang di benaknya pasti urusannya dengan jenggot, kopiah, baju koko, sarung, dan jilbab. Well. Nggak salah-salah amat sih. Cuma nggak lengkap penilaiannya.
Lagian juga terkesan adanya pemisahan antara dakwah dan kehidupan umum, gitu lho. Kesannya kalo dakwah adalah bagiannya mereka yang ada di kalangan pesantren atau anak-anak ngaji aja. Anak-anak nongkrong sih nggak tepat kalo berurusan dengan dakwah. Dakwah kesannya jadi tugas mereka yang hobinya dengerin lagu-lagu nasyid macam Demi Masa-nya Raihan. Bukan tugas anak-anak yang hobinya dengerin lagu-lagu pop macam Terima Kasih Cinta-nya Afgan. Halah, itu salah banget, Bro. Nggak gitu deh seharusnya. Sumpah.
Gini nih, sebenarnya urusan dakwah atau tugas dakwah jadi tanggung jawab bersama seluruh kaum muslimin. Cuma, karena tugas dakwah ini cukup berat dan nggak semua orang bisa tahan menunaikannya, jadinya dakwah secara tidak langsung diserahkan kepada mereka yang ngerti aja. Anggapan seperti ini insya Allah nggak salah. Cuma, kalo dengan alasan seperti ini lalu kaum muslimin yang belum ngerti atau masih awam tentang Islam jadi bebas untuk nggak berdakwah, atau nggak mau terjun dalam dakwah, itu tentu salah, Bro. Why? Karena tetap aja punya kewajiban untuk belajar. Tetap punya kewajiban mencari ilmu. Jadi, nggak bisa bebas juga kan? Malah kalo nekat nggak mau belajar dan nggak mencari ilmu, hal itu dinilai berdosa, man! Bener.
Baginda kita, Rasulullah Muhammad saw. bahkan menyatakan bahwa aktivitas belajar dan mencari ilmu adalah kewajiban bagi seluruh kaum muslimin dari buaian ibu hingga ke liang lahat. Kalo mencari ilmu itu adalah wajib, berarti bagi yang nggak mencari ilmu selama hidupnya, jelas berdosa dong. Allah Swt. bahkan menjamin orang-orang yang beriman dan berilmu akan diberikan derajat lebih tinggi dibanding orang yang nggak berilmu (apalagi nggak beriman). Firman Allah Swt.:
“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Mujâdalah [58]: 11)
Bro, emang bener banget. Urusan dakwah ini sangat erat hubungannya dengan tingkat keilmuan. Dakwah itu jelas membutuhkan ilmu. Jadi, betul kalo dikatakan bahwa tugas berdakwah hanya diberikan kepada mereka yang udah menguasai ilmu agama. Tapi, buat kita yang belum menguasai ilmu agama secara mantap bukan berarti nggak ada kewajiban dakwah. Sebab, rasa-rasanya untuk ukuran sekarang nih, nggak mungkin banget ada kaum muslimin yang nggak ngerti sama sekali tentang Islam. Pasti deh, satu keterangan atau dua keterangan dalam ajaran agama Islam sudah pernah didengarnya dan menjadi pengetahuannya. So, sebenarnya tetap punya kewajiban nyampein dakwah meskipun cuma sedikit yang diketahui. Kalo pengen lebih banyak tahu tentang Islam, ya tentu saja kudu belajar lagi dan mencari ilmu lagi. Sederhana banget kan solusinya? Insya Allah kamu pasti bisa ngejalaninya, asal kamu mau. Yakin deh.
Mengapa dakwah itu wajib?
Jawabnya gini, sebab Islam adalah agama dakwah. Salah satu inti dari ajaran Islam memang perintah kepada umatnya untuk berdakwah, yakni mengajak manusia kepada jalan Allah (tauhid) dengan hikmah (hujjah atau argumen). Kepedulian terhadap dakwah jugalah yang menjadi trademark seorang mukmin. Artinya, orang mukmin yang cuek-bebek sama dakwah berarti bukan mukmin sejati. Bener, lho. Apa iya kamu tega kalo ada teman kamu yang berbuat maksiat kamu diemin aja? Nggak mungkin banget kan kalo ada temen yang sedang berada di bibir jurang dan hampir jatuh, nggak kamu tolongin. Iya nggak sih?
Boys and gals, bahkan Allah memuji aktivitas dakwah ini sebagai aktivitas yang mulia, lho. FirmanNya:
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim” (QS Fushshilat [41]: 33)
Dalam ayat lain Allah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk berdakwah. Seperti dalam firmanNya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS an-Nahl [16]: 125)
Menyeru kepada yang ma’ruf (kebaikan) dan mencegah dari perbuatan munkar merupakan identitas seorang muslim. Itu sebabnya, Islam begitu dinamis. Buktinya, mampu mencapai hingga sepertiga dunia. Itu artinya, hampir seluruh penghuni daratan di dunia ini pernah hidup bersama Islam. Kamu tahu, ketika kita belajar ilmu bumi, disebutkan bahwa dunia ini terdiri dari sepertiga daratan dan dua pertiga lautan. Wah, hebat juga ya para pendahulu kita? Betul, sebab mereka memiliki semangat yang tinggi untuk menegakkan kalimat “tauhid” di bumi ini. Sesuai dengan seruan Allah (yang artinya): “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.” (QS al-Baqarah [2]: 193)
Kini, di jaman yang udah jauh berubah ketimbang di “jaman onta”, arus informasi makin sulit dikontrol. Internet misalnya, telah mampu memberikan nuansa budaya baru. Kecepatan informasi yang disampaikannya ibarat pisau bermata dua. Bisa menguntungkan sekaligus merugikan. Celakanya, ternyata kita kudu ngurut dada lama-lama, bahwa kenyataan yang harus kita hadapi dan rasakan adalah lunturnya nilai-nilai ajaran Islam di kalangan kaum muslimin. Tentu ini akibat informasi rusak yang telah meracuni pikiran dan perasaan kita. Utamanya remaja muslim. Kita bisa saksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa banyak teman remaja yang tergoda dengan beragam rayuan maut peradaban Barat seperti seks bebas, narkoba, dan beragam kriminalitas. Walhasil, amburadul deh!
Itu sebabnya, sekarang pun dakwah menjadi sarana sekaligus senjata untuk membendung arus budaya rusak yang akan menggerus kepribadian Islam kita. Kita lawan propaganda mereka dengan proganda kembali. Perang pemikiran dan perang kebudayaan ini hanya bisa dilawan dengan pemikiran dan budaya Islam. Yup, kita memang selalu “ditakdirkan” untuk melawan kebatilan dan kejahatan.
Sobat muda muslim, Islam membutuhkan tenaga, harta, dan bahkan nyawa kita untuk menegakkan agama Allah ini. Dengan aktivitas dakwah yang kita lakukan, maka kerusakan yang tengah berlangsung ini masih mungkin untuk dihentikan, bahkan kita mampu untuk membangun kembali kemuliaan ajaran Islam dan mengokohkannya. Tentu, semua ini bergantung kepada partisipasi kita dalam dakwah ini.
Coba, apa kamu nggak risih dengan maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja? Apa kamu nggak merasa was-was dengan tingkat kriminalitas pelajar yang makin tinggi? Apa kamu nggak kesel ngeliat tingkah remaja yang hidupnya nggak dilandasi dengan ajaran Islam? Seharusnya masalah-masalah model beginilah yang menjadi perhatian kita siang dan malam. Beban yang seharusnya bisa mengambil jatah porsi makan kita, beban yang seharusnya menggerogoti waktu istirahat kita, dan beban yang senantiasa membuat pikiran dan perasaan kita nggak tenang kalo belum berbuat untuk menyadarkan kaum muslimin yang lalai.
Untuk ke arah sana, tentu membutuhkan kerjasama yang solid di antara kita. Sebab, kita menyadari bahwa kita bukanlah manusia super yang bisa melakukan aksi menumpas kejahatan hanya dengan seorang diri. Kalo kita ingin cepat membereskan berbagai persoalan tentu butuh kerjasama yang apik, solid dan fokus pada masalah. Pemikiran dan perasaan di antara kita kudu disatukan dengan ikatan akidah Islam yang lurus dan benar. Kita harus satu persepsi, bahwa Islam harus tegak di muka bumi ini. Kita harus memiliki cita-cita, bahwa Islam harus menjadi nomor satu di dunia untuk mengalahkan segala bentuk kekufuran. Itulah di antaranya kenapa kita wajib berdakwah, Bro. Semoga kamu paham.
Dakwah itu tanda cinta
Bro en Sis, seharusnya kita menyambut baik orang-orang yang mau meluangkan waktu dan mengorbankan tenaganya untuk dakwah menyampaikan kebenaran Islam. Sebab, melalui merekalah kita jadi banyak tahu tentang Islam. Kita secara tidak langsung diselamatkan oleh seruan mereka yang awalnya kita rasakan sebagai bentuk ‘kecerewetan’ mereka yang berani ngatur-ngatur urusan orang lain. Padahal, justru itu tanda cinta dari sesama kaum muslimin yang nggak ingin melihat saudaranya menderita gara-gara nggak kenal Islam dan nggak taat sama syariatnya.
Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan keadaan suatu kaum atau masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah (mencegah kemungkaran) adalah ibarat satu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat duduknya masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Dan bila ada orang yang di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk di bagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah tadi berkata: “Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak mengganggu orang lain di atas.” Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa.” (HR Bukhari)
Sobat, dakwah adalah darah dan napas kehidupan Islam. Itu sebabnya, kita yang masih remaja pun dituntut untuk mampu tampil sebagai pengemban dakwah yang handal. Kita khawatir banget, seandainya di dunia ini nggak ada orang-orang yang menyerukan dakwah Islam, bagaimana masa depan kehidupan umat manusia nanti? Jangan sampe Islam dan umat ini hanya tinggal “kenangan”. Yuk, kita kaji Islam biar mantap dan semangat mendakwahkannya. [osolihin: sholihin@gmx.net]
Bener lho. Percaya diri itu bikin kita enjoy menikmati hidup. Bikin asyik menikmati tan-tangan dan rintangan. Percaya diri pun diyakini bisa menem-patkan kita sebagai orang yang bisa mengelola emosi. Duileee sampe segitunya ya? Bener. Sebab, ketika kita memiliki rasa percaya diri, kita tahu apa yang kudu kita lakukan. Kita bisa ngukur diri. Itu sebabnya, orang yang percaya dengan kemampuan dirinya, biasanya bakalan rileks en tanpa beban dalam berbuat. Ini, tidak saja membawa hasil maksimal, tapi juga antistres. Nggak percaya? Silakan dicoba.
Sobat muda muslim, percaya diri alias pede emang kudu ditumbuh-kembangkan dalam diri kita. Kita rawat, kita bersihkan, kita poles dengan apik, dan kita sirami agar terus bersemi. Insya Allah, itu akan membuat kita tak pernah merasa terbebani. Kita akan menatap masa depan dengan penuh semangat dan tentunya tak mudah goyah dengan berbagai godaan en rayuan. Mulai dari rayuan pulau kelapa ampe rayuan gombal sekali pun. Nggak mudah percaya ama rayuan. Yakin itu.
Mungkin sebagian teman kita sutris banget pas ada yang ngata-ngatain bahwa umat Islam itu terbelakang en bodoh. Emang dalem banget en nyelekit pernyataan tersebut. Terus karena kalah mental akhirnya doi nggak pede lagi jadi seorang muslim. Jangan sampe tuh ngendon juga di jiwamu!
Padahal, cobalah kita berpikir lebih jernih. Sikap minder itu muncul justru karena kita merasa rendah diri. Merasa kerdil di hadapan orang lain. Padahal sejatinya, belum tentu orang lain lebih baik dari kita. Belum tentu pula kita lebih jelek di hadapan mereka. Itu semua adalah sekadar nilai dan cara pandang aja. Meski emang kudu ada standar nilai dan standar cara pandang yang benar.
Tapi terlepas dari salah-benar standar hidupnya, rasa percaya diri itu bisa menuntun kita lebih bijak dalam bersikap. Coba aja pikirkan. Kalo ada pernyataan seperti tadi, kamu jangan terpancing dan terbawa opini untuk ikut-ikutan merasa terbelakang, hanya karena kita sebagai muslim. Lagian pernyataan itu kan nggak sepenuhnya benar. Masih perlu diujicoba dan dibuktikan argumentasinya di lapangan. Tul nggak seh?
Mungkin benar pernyataan tersebut kalo fakta yang ditunjukkinnya adalah kaum muslimin yang berada dalam kondisi miskin dan tingkat pendidikannya rendah. Tapi kan masih ada kalangan muslim yang kaya dan jenjang pendidikannya lebih tinggi. Nah, jadi nggak perlu minder kan?
Bahkan jika pernyataan itu memojokkan kita sekali pun, bukan berarti kita pantas untuk minder en bersedih. Sebaliknya, fakta itu kita jadikan sebagai bahan renungan untuk lebih memberikan perhatian yang banyak kepada Islam dan umatnya. Tentunya, agar di kemudian hari kita lebih terhormat. Betul?
Jadi, nggak usah minder ya. Kita berjuang tanpa bosan, tanpa beban, dan tentunya tetap semangat. Buang jauh-jauh file minder van rendah diri dari daftar file di direktori otak kita. Kita cerahkan masa depan hidup kita dengan rasa percaya diri. Apalagi, kita adalah pejuang Islam, nggak pantes deh kalo kita malah nggak pede. Malu banget tuh sama jenggot yang jumlahnya cuma lima lembar itu. Heheheh (apa hubungannya ya?)
Tetep cool ya�
Wuih, cool? Emang mainnya hobi yang dingin-dingan aja ya? Kata teman saya sih, kalo kita cool berarti profesinya nggak jauh dari tukang reparasi kulkas? Hihihi.. ngaco aja ah. You pasti udah understand -lah dengan istilah cool ini.
Oke deh, kita sepakati aja dulu tentang istilah ini. Berdasarkan kamus bahasa slang yang berceceran banyak di internet, istilah cool ini muradif alias padanan katanya sama dengan asyik. Asyik? Bener. Wah, ternyata enak juga jadi remaja yang cool ya? Jadi, tetep sa'ik alias asyik dalam menjalani hidup ini. Kita bisa kok. Nggak masalah.
Sobat muda muslim, gimana dong buat yang belum pede? Kita kan pengen juga neh. Iya ya? Yang belum pede, berarti kudu belajar untuk pede. Kalo yang udah pede mah, kudu dipertahankan ya. Biar tetep pede.
Oke deh, buat kamu yang belum pede en supaya tetep cool, kita ngasih beberapa tips nih supaya bisa pede. Secara umum tapi ye. Insya Allah tetap bermanfaat kok.
Pertama , mengenali diri sendiri. Lho, emangnya ada yang masih belum kenal dengan dirinya sendiri? Wah, jangan heran Bro , banyak di antara kita yang nggak ngeh dengan diri kita sendiri. Caranya begini. Belajar menilai diri secara obyektif dan jujur. Susunlah daftar 'kekayaan' pribadi, seperti prestasi yang pernah diraih, sifat-sifat positif, potensi diri baik yang sudah diaktualisasikan maupun yang belum, keahlian yang dimiliki, serta kesempatan atau pun sarana yang mendukung kemajuan diri.
Kamu kudu nyadar dengan semua aset berharga yang kamu miliki. Terus, silakan temukan pula aset yang belum dikembangkan. Pelajari kendala yang selama ini menghalangi perkembangan diri kamu, seperti: pola berpikir yang keliru, niat dan motivasi yang lemah, kurangnya disiplin diri, kurangnya ketekunan dan kesabaran, tergantung pada bantuan orang lain, atau pun sebab-sebab eksternal lain.
Kalo pengen lebih keren, bikin deh hasil analisa dan pemetaan terhadap SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunity and Threats) diri, kemudian digunakan untuk membuat dan menerapkan strategi pengem-bangan diri yang lebih realistik. Coba ye..
Kedua , menilai diri sendiri dengan jujur. Nah lho, jarang banget nih ada orang yang pandai menilai pribadinya dengan jujur. Mayoritas kalo udah bicara tentang dirinya, pasti GUE BANGET. Orang lain mah LEWAAAT. Ih, jangan sampe begitu ya.
Sobat muda muslim, sadari dan hargailah sekecil apapun keberhasilan dan potensi yang kamu miliki. Ingat lho, bahwa semua itu didapat melalui proses belajar, berevolusi dan transformasi (perubahan) diri sejak dulu ampe sekarang. Kalo kamu mengabaikan/meremeh-kan satu saja prestasi yang pernah diraih, berarti mengabaikan atau menghilangkan satu jejak yang membantu kamu menemukan jalan yang tepat menuju masa depan.
Oya, ati-ati lho, kerana ketidakmampuan menghargai diri sendiri, mendorong munculnya keinginan yang tidak realistik dan berlebihan; contoh: ingin cepat kaya, ingin cantik en getop, mendapat jabatan penting dengan segala cara. Kalo dipiki-piki, semua itu sebenarnya bersumber dari rasa rendah diri yang kronis, penolakan terhadap diri sendiri, ketidak-mampuan menghargai diri sendiri--hingga berusaha mati-matian menutupi keaslian diri. Heuheuheu.. jangan ampe hinggap di dirimu deh!
Ketiga , berpikir positif. Cobalah kamu perangi setiap asumsi, prasangka, atau persepsi negatif yang muncul dalam benak kamu. Kamu bisa katakan pada diri sendiri, bahwa nobody's perfect dan it's okay if I made a mistake (duileee nih ngomongnya David Beckham banget).
Jangan biarkan pikiran negatif berlarut-larut karena tanpa sadar pikiran itu akan terus berakar, bercabang, dan berdaun. Semakin besar dan menyebar, makin sulit dikendalikan dan dipotong. Walah?
Itu sebabnya, jangan biarkan pikiran negatif menguasai pikiran dan perasaan kamu. Hati-hatilah agar masa depan kamu nggak rusak karena keputusan keliru yang dihasilkan oleh pikiran keliru. Jika pikiran itu muncul, cobalah menuliskannya untuk kemudian di re-view kembali secara logis dan rasional. Pada umumnya, orang lebih bisa melihat bahwa pikiran itu ternyata tidak benar. Coba ya? Iya sih! (nah kalo ini Dian Sastro banget neh! Hihihi)
Keempat , boleh deh pajang slogan-slogan oke. Tempelin dekat meja belajarmu: �Saya pasti bisa!�, �Saya akan belajar dari kesalahan ini� �Hari esok milik saya�, �Islam pasti menang!�, �Aku ingin syahid�. Wis, pokoke sebanyak-banyak yang bisa menggugah semangatmu.
Kelima , berani ambil risiko. Nah, ini juga perlu kamu kembangkan. Hidup ini selalu berubah sobat. Seringjkali bahkan kudu berani ngambil risiko. Kami nggak perlu menghindari setiap risiko, melain-kan lebih menggunakan strategi-strategi untuk menghindari, mencegah atau pun mengatasi risiko tersebut.
Contohnya, kamu nggak perlu menyenangkan orang lain untuk meng-hindari risiko ditolak. Jika kamu ingin mengembangkan diri sendiri (bukan diri seperti yang diharapkan orang lain), pasti ada risiko dan tantangannya. Namun, lebih buruk berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa daripada maju berkembang dengan mengambil risiko. Ingat: No Risk, No Gain. Huhuy!
Keenam , tetapkan tujuan yang realistis. Nah, ini perlu sobat. Kamu perlu mengevaluasi tujuan-tujuan yang kamu tetapkan selama ini; apakah tujuan tersebut sudah realistik atau nggak. Dengan menerapkan tujuan yang lebih realistik, maka akan memudahkan kamu dalam mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian kamu akan menjadi lebih percaya diri dalam mengambil langkah, tindakan dan keputusan dalam mencapai masa depan, sambil mencegah terjadinya risiko yang tidak diinginkan.
Ketujuh , bersyukur dan tawakal. Wajib deh buat kita semua untuk mensyukuri nikmat dari Allah. Kita kadang sulit menghadapi hidup ini, tapi dengan banyak bersyukur, pikiran dan perasaan kita jadi lebih tenang menghadapinya.
Moga beberapa tips yang berhasil saya ramu dari berbagai pendapat ini bisa bikin kamu tambah pede en tentunya tetep cool ya.
Islam bikin kita pede
Ada beberapa alasan yang sebenarnya bisa bikin kita pede dengan jadi muslim. Islam, agama kita, memiliki banyak kelebihan yang bisa dibanggakan. Dan tentunya bisa bikin pede dong. Jadi bener ya, kalo kita kenal dengan agama kita sendiri, dan tahu apa aja kelebihan-nya, insya Allah bikin pede.
Pertama , Islam mengajarkan bahwa tuhan kita adalah Allah. Maha segalanya. Tuhan yang lain mah lewaat deh. Firman Allah Swt.: �Katakanlah: �Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia�. (QS al-Ikhlas [112]: 1-4)
Insya Allah ini juga bisa bikin kita pede. Kepada siapa lagi coba kita akan menyembah kecuali kepada Allah? Betul?
Kedua , Islam juga punya al-Quran. Ini benar-benar the amazing book . Pedoman hidup kita dari masalah yang kecil ampe yang besar. Mulai soal bersuci sampe pemerintahan dan negara. Wuih, mana ada kitab lain yang bisa begitu? Wah bener-bener bikin pede dan membanggakan banget.
Sampe-sampe W.E. Hocking berkomen-tar, �Oleh karena itu, saya merasa benar dalam penegasan saya, bahwa al-Quran mengandung banyak prinsip yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya sendiri. Sesunguhnya dapat dikata�kan, bahwa hingga pertengahan abad ke tiga�belas, Islam-lah pembawa segala apa yang tumbuh yang dapat dibanggakan oleh dunia Barat.� ( The Spirit of World Politics, 1932, hlm. 461 )
Ketiga, kita punya nabi yang dikagumi orang sejagat. Rasulullah saw. diakui oleh kawan dan lawannya. Penulis buku Seratus Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia , Michael Hart, menyebutkan, �Dia (Muhammad saw.) adalah orang yang paling berpengaruh sepanjang sejarah kehidupan manusia lebih dari Newton dan Yesus (Nabi Isa) atau siapapun di dunia ini.�
Oke deh, paling nggak itu beberapa alasan kenapa kita kudu pede jadi remaja muslim. Yuk, kita sama-sama membangun rasa percaya diri dan mempertahankannya.Kita bisa mencoba mulai dari sekarang. Nggak perlu nunggu lama lagi. Apalagi, kita sebagai remaja muslim dan juga pengemban dakwah. Kalo sampe nggak pede, aduh, malu atuh!